MENINGKATKAN KREATIVITAS ANAK USIA DINI MELALUI BERBAGAI PERMAINAN


ABSTRAK

Bermain bagi tingkatan anak usia dini, merupakan dunianya. Banyak sekali manfaat yang didapatkan dari kegiatan bermain, salah satunya adalah pengembangan kreativitas anak usia dini. Bermain dalam bentuk apapun, baik aktif maupun pasif, baik dengan alat maupun tanpa alat dapat menunjang ktreativitas anak dalam menciptakan hal-hal yang baru. Misalnya saja permainan balok kayu, anak akan belajar bagaimana cara menyusun atau membangun kayu sehingga menjadi sebuah bentuk sesuai dengan imajinasinya, sehingga memunculkan kreatifitas anak dalam berkarya. Permainan ayunan, bermanfaat untuk imajinasi anak saat dia berayun-ayun di udara, juga akan membantu pertumbuhan dan perkembangan otot-otot anak usia dini, melatih motorik kasar saat mengayunkan kakinya. Perosotan baik untuk melatih emosi anak, juga melatih motorik kasar anak saat anak naik tangga. Disinilah peran orang tua dan pendidik untuk dapat menjadi fasilitator pengembangan kreativitas anak, dengan cara memfasilitasi anak agar dapat bermain dengan alat yang tepat sesuai dengan bakat, minat, perkembangan, dan kebutuhan anak. Anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, bahkan dikatakan sebagai masa usia emas (golden age). Anak usia dini merupakan individu yang berbeda, unik, dan memiliki karakteristik tersendiri sesuai dengan tahapan usianya. Anak usia dini itu bervariasi karena anak usia dini merupakan individu yang berbeda, unik, dan memiliki karakteristik tersendiri sesuai dengan tahapan usianya. Tujuan penulisan makalah ini, agar pendidik memahami alat-alat permainan yang dapat meningkatkan kreativitas anak usia dini sehingga bermanfaat bagi anak usia dini.

KATA KUNCI: kreativitas, anak usia dini, permainan

 

PENDAHULUAN 

  1. Latar Belakang

Dunia bermain merupakan dunia yang penuh warna dan menyenangkan, karena yang melakukan permainan akan merasa terhibur dan senang saat melakukannya. Dari kata “bermain” sudah menunjukan bahwa kegiatan ini berdampak memberikan penyegaran pikiran dari berbagai aktifivitas yang menjenuhkan. Bermain bagi anak-anak, memiliki peranan yang sangat penting. Para pakar psikologi berpendapat bahwa kegiatan bermain dapat menjadi sarana untuk perkembangan anak, dengan melakukan permainan, anak-anak akan terlatih secara fisik, maka dengan demikian, kemampuan kognitif dan sosialnyapun akan berkembang.

Bermain memberikan suatu kesenangan bagi anak, karena dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan anak baik dari segi perkembangan otot kasar dan otot halus anak, meningkatkan penalaran anak, dan memahami kebermaknaan lingkungannya, membentuk daya imajinasi anak serta mengembangkan kreativitas.

Anak secara langsung mengamatii lingkungan area bermain disekitarnya, anak dapat berinteraksi langsung dengan lingkungannya, karena dengan bermain anak dapat menemukan lingkungan orang lain, dan menemukan dirinya sendiri, sehingga anak dapat bersosialisasi dengan lingkungan tersebut, anak dapat menghargai orang lain, tenggang rasa terhadap orang lain, tolong menolong sesama teman, dan yang lebih utama anak dapat menemukan pengalaman baru dalam kegiatan tersebut. Bermain dapat memotivasi anak untuk mengetahui segala sesuatu secara lebih mendalam melalui eksperimen sederhana. Pada saat  bermain, anak memiliki kesempatan untuk mengekspresikan segala sesuatu yang ia rasakan dan pikirkan. Melalui  bermain, anak sebenarnya sedang mempraktekkan keterampilan yang di milikinya secara langsung, karena dengan praktek anak akan mendapatkan pengalaman unik yang dapat membangun pengetahuannya. Anak mendapatkan kepuasan dalam bermain karena secara tidak langsung anak mengembangkan dirinya sendiri.

Anak yang kreatif dapat terlihat dari perilaku yang dilakukannya, yaitu selalu aktif dalam segala kegiatan, tidak pernah diam, dan selalu ingin bergerak karena rasa ingin tahunya terhadap sesuatu yang baru di lihatnya, selalu bertanya tentang hal yang baru saja di lihatnya, memiliki kekhasan tersendiri dalam hal bakat, minat, gaya belajar, dan yang lainnya, suka dengan hal-hal yang menantang keingintahuannya, lebih mengutamakan diri sendiri, dan memiliki konsentrasi yang sangat pendek atau cepat merasa bosan.

Kenyataan sekarang, sering dijumpai bahwa kreativitas anak terhambat oleh keterbatasan lingkungan bermain anak, kurangnya kebebasan anak untuk bermain, dan kurangnya sarana bermain bagi anak, terlebih lagi ada sebagian orang tua yang melarang anaknya bermain dengan teman sebayanya di luar. Di jaman modern ini banyak anak-anak yang merasa tertekan mengikuti kegiatan sekolah, karena pembelajaran anak usia dini dan di Taman anak-kanak banyak yang terstruktur dan formal, sehingga celah bagi anak untuk bermain sambil belajar semakin sempit, padahal kegiatan bermain bebas sering merupakan kunci untuk mengembangkan bakat kreatif yang dimiliki setiap anak dan mengembangkan kreativitas anak.

Fungsi bermain bagi anak usia dini dapat dijadikan sebagai modal yang jika dilaksanakan dengan tepat, baik dilengkapi dengan alat maupun tanpa alat, akan sangat membantu mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak, baik perkembangan sosial, emosional, kognitif, dan afektif pada umumnya, serta dapat mengembangkan daya kreativitas anak.

Untuk itu permainan merupakan solusi yang dapat meningkatkan kreatifitas anak melalaui bermain seperti kegiatan eksperimen sederhana yang kegiatannya tidak jauh dari unsur bermain   anak, karena anak akan secara langsung berinteraksi sendiri dengan objeknya dan sesuai dengan kemauan anak, dengan bimbingan dan arahan seorang guru Taman Kanak-kanak.

  1. Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini agar mengetahui bagaimana “Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini Melalui Berbagai Permainan”:

  1. Memahami kreativitas bagi anak usia dini.
  2. Mengetahui anak usia dini.
  3. Mengenal berbagai permainan untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini.

PEMBAHASAN

  1. Kreativitas
  2. Pengertian Kreativitas

Istilah kreatifitas berasal dari bahasa inggris yaitu dari kata dasar “to create”. Creative (kreatif) berarti menciptakan atau membuat sesuatu yang baru yang belum pernah dibuat dan diciptakan orang lain. Dalam skripsi menurut Clark Mostakis dalam Yeni (2010:13) kreatifitas merupakan pengalaman dalam mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu antara hubungan diri sendiri, alam, dan orang lain. Menurut  Baron (dalam Asrori, 2007:61) dalam skripsi kreatifitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kreatifitas adalah suatu kemampuan seseorang dalam menghasilkan sesuatu yang baru yang belum pernah di hasilkan orang lain yang merupakan proses interaksi manusia dengan lingkungan dalam pemecahan masalah.

  1. Tujuan Kreatifitas

Kreativitas merupakan suatu ungkapan sering diberikan kepada orang yang bisa menciptakan ide atau gagasan baru. Khususnya bagi anak usia dini yang serba ingin tahu selalu menciptakan sesuatu yang sesuai dengan keinginan dan imajinasinya.

Tujuan kreativitas dalam skripsi Montolalu (2005:3.8), adalah memberikan kesempatan anak untuk mengekspresikan diri, menemukan alternatif cara pemecahan, masalah, keterbukaan dan kepuasan diri.

Menurut Martini (2006:58) dalam skripsi, mengemukakan bahwa tujuan kreatifitas adalah anak yang mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan berbagai inisiatif yang dipikirkannya yang akan berkembang menjadi anak yang percaya diri.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan kreativitas adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk mewujudkan atau mengekspresikan apa yang dirasakannya agar dapat melatih kepercayaan dirinya.

3  Karakteristik Kreatifitas

Masa kanak-kanak adalah masa yang sangat rentan dengan pertumbuhan baik fisik maupun mental khususnya anak usia 3-5 tahun. Sebagian besar anak sering kali tidak sabar menungggu masa-masa pengakuan dari lingkungan sekitarnya terutama orang tua dan teman sebayanya bahwa anak-anak bukan bayi yang penuh dengan ketergantungan melainkan ingin dianggap seperti orang dewasa umumnya.

Dalam skripsi menurut Piers dalam (Asrori, 2007:72) mengemukakan bahwa karakteristik kreativitas adalah: memiliki dorongan yang tinggi, memiliki keterlibatan yang tinggi, memiliki rasa ingin tahu, memiliki ketekunan yang tinggi, cenderung ketidakpuasan terhadap kemampuan sendiri, percaya diri, memiliki kemandirian, bebas dalam mengambil keputusan, menerima diri sendiri, senang rumor, memiliki intuisi, cenderung tertarik kepada hal-hal yang komplek, toleran dan bersifat sensitive.

Dapat disimpulkan bahwa karakteristik dari kreatifitas anak usia dini adalah anak yang memiliki energi fisik dan mental yang sehat, cerdas, disiplin, bersemangat, punya keingintahuan, percaya diri, mempunyai sifat terbuka, dan penuh daya cipta.

  1. Pengembangan Kreatifitas

Kreatifitas anak usia dini akan terlihat saat anak bermain bebas mengekspresikan dirinya. Secara berangsur-angsur akan tergambar kreatifitas anak setiap aktivitas yang dilakukan anak, karena anak adalah insan yang aktif dan tidak pernah diam. Dalam skripsi menurut Utami Munandar (dalam Asrori, 2007 : 62) mengatakan                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            bahwa pengertian pengembangan kreatifitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berfikir serta kemampuan untuk mengembangkan pemikiran dan aktivitas. Kreativitas alami seorang anak usia dini terlihat dari rasa ingin tahunya yang besar. Hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan anak yang diajukan kepada orang tuanya terhadap sesuatu yang dilihatnya. Adakalanya pertanyaan itu diulang-ulang dan tidak ada habis-habisnya. Selain itu, anak juga senang mengutak-atik alat mainannya sehingga tidak awet dan cepat rusak hanya karena rasa ingin tahu terhadap proses kejadian.

Kreativitas anak dapat dikembangan dengan cara-cara berikut ini:

  1. Bermain

Bermain merupakan awal dari perkembangan kreativitas, karena dalam kegiatan yang menyenangkan, anak dapat mengungkapkan imajinasinya dengan bebas, oleh karena itu kegiatan bermain dapat dijadikan dasar dalam mengembangkan kreativitas anak.

  1. Melatih Kemampuan Otak Kanan

Untuk melatih kemampuan otak kanan, caranya adalah dengan mengajak anak-anak  bernyanyi,  berpuisi, menggambar,  dan  berbagai  macam kegiatan kreatif lainnya, agar kemampuan otak  kanan dapat bekerja lebih  optimal.  Pada umumnya di sekolah anak-anak akan lebih cenderung menggunakan otak  kiri, dan  bila kemampuan otak kanan dan kiri bisa bekerja dengan baik dan seimbang,  maka anak-anak  tidak hanya akan berpeluang mendapatkan prestasi  di bidang akademis saja,  melainkan bisa meraih prestasi-prestasi  di bidang yang  lain, misalnya kesenian.

  1. Berkreasi Setiap Hari

Agar anak-anak kreatif, kita dapat mengajarkan pada anak-anak dengan kegiatan menggambar,  melipat  kertas,  bermain game, bermain puzel, bermain permainan-permaian edukatif,  bernyanyi,  bercerita, dan masih banyak lagi.

  1. Beri Anak Pengalaman Baru

Untuk memberikan pengalaman baru pada anak-anak; berikanl waktu khusus dengan mengajaknya ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjunginya, seperti museum, kebun binatang dan taman rekreasi. Hal-hal baru ini dapat meningkatkan atau merangsang imajinasi anak sehingga krrtivitas anak semakin meningkat.

  1. Meningkatkan Perbendaharaan Kata pada Anak

Untuk meningkatkan perbendaharaan kata-kata anak, dapat melalui kegiatan membaca, mendongeng, bercerita pengalaman, tanya jawab, bernyanyi, dan kegiatan lainnya, karena semakin  tinggi   perbedaharaan kata  anak,  maka seorang  anak akan menjadi  lebih mudah  dalam memahami  seseuatu.

  1. Melatih Kemampuan Mendengar Anak

Untuk melatih kemampuan mendengar anak, dapat menggunakan tape recorder dan laoudspeaker. Alat-alat tersebut bisa  digunakan untuk melatih kemampuan mendengar anak-anak. Agar indera pendengaran  anak bisa  terlatih dengan baik, lebih baik kita sering-sering  mengajak anak untuk  mendengarkan lagu-lagu, cerita, lalu menanyakan hal-hal yang yang terdapat pada lagu atau cerita tersebut, dapat juga belajar bahasa  Inggris, jika usia anak sudah memadai.

  1. Sediakan fasilitas yang mendukung kreativitas anak

Untuk merangsang kreativitas anak, yaitu dengan cara menyediakan fasilitas yang mendukung kreativitas anak, seperti mainan bongkar pasang, balok susun, puzzle. Ketika bermain permainan ini, anak akan masuk pada imajinasinya sendiri, maka akan sangat merangsang proses berfikir dan kreativitas anak.

  1. Hubungan Kreatifitas dengan Anak Usia Dini

Dalam bermain anak akan mengeksplorasi diri melalui gerakan, penglihatan, dan pendengaran terhadap benda-benda yang terdapat disekelilingnya, anak akan bereksperimen terhadap benda-benda yang dilihatnya, anak akan berekspresi dengan benda-benda yang dilihatnya. Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kreativitasannya. Anak dapat berekperimen dengan gagasan-gagasan barunya baik yang menggunakan alat bermain maupun yang tidak menggunakan alat bermain. Sekali anak merasa mampu menciptakan sesuatu yang baru dan unik, maka ia akan melakukan kembali pada situasi yang lain. Kreativitas akan memberikan kesenangan dan kepuasan pribadi serta penghargaan pada anak, juga memiliki pengaruh pada perkembangan pribadinya.

Anak usia dini merupakan insan yang unik, memiliki rasa ingin tahu yang unik, anak yang aktif dan energik, berjiwa petualangan, dan suka berfantasi. Setiap individu pada hakekatnya sudah diberi oleh Tuhan, potensi untuk menjadi kreatif. Anak yang sudah terbiasa melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif, nantinya akan menjadi anak yang tumbuh dengan pribadi yang cerdas, tangguh, ulet, dan mandiri. Jika dilihat dari sudut pandang pribadi, bahwa ciri-ciri kreatifitas itu terdapat pada diri anak, namun tingkatan kratifitas anak itu berbeda-beda antara anak yang satu dengan anak yang lainnya. Perbedaan-perbedaan pada anak–anak itulah yang menunjukkan adanya keunikan tersendiri pada anak–anak sebagai seorang pribadi, maka dengan karakter anak yang seperti itu anak akan mencoba menciptakan hal-hal baru yang sedang difikirkannnya. Misalnya saja anak sedang mencoba-coba membuat rumah-rumahan yang bentuknya agak berbeda dengan yang biasa dilihatnya. Tentu akan muncul pertanyaan darimanakah anak kecil tersebut mendapatkan ide-iade? darimana muncul ide-ide tersebut? Jawabannya: pasti anak memiliki imajinasi yang tinggi sehingga mampu membuat karya yang kreatif.

Melihat hal seperti itu, tentu orang tua akan mengetahui bahwa anaknya mampu berimajinasi. Sebagai orang tua tentu harus menghargai  karya kreatif anaknya, karena dengan penghargaan yang diberikan kepada anak, anak  akan merasa bangga dengan hasil karyanya dan akan menjadi terbiasa untuk berkarya kreatif. Sesuai dengan semboyan anak usia dini  “bermain sambil belajar, belajar seraya bermain” bahwa dunia anak adalah bermaian, dengan memberikan kesempatan bermaian dan berkreasi kepada anak, maka anak akan mendapatkan perasaan senang dan perasan gembira yang akan memunculkan kegiatan-kegiatan spontan dan kreatif.

  1. Anak Usia Dini
  2. Pengertian Anak Usia Dini

Anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Anak usia dini memiliki rentang usia yang sangat berharga dibanding usia-usia selanjutnya karena perkembangan kecerdasannya sangat luar biasa. Usia tersebut merupakan fase kehidupan yang unik, dan berada pada masa proses perubahan berupa pertumbuhan, perkembangan, pematangan dan penyempurnaan, baik pada aspek jasmani maupun rohaninya yang berlangsung seumur hidup, bertahap, dan berkesinambungan.

Anak usia dini merupakan individu yang berbeda, unik, dan memiliki karakteristik tersendiri sesuai dengan tahapan usianya. Pada masa ini stimulasi seluruh aspek perkembangannya memiliki peran penting untuk tugas perkembangan selanjutnya. Sel-sel tubuh anak usia dini tumbuh dan berkembang sangat pesat, pertumbuhan otaknyapun sedang mengalami perkembangan yang sangat luar biasa, demikian juga dengan pertumbuhan dan perkembangan fisiknya. Tahap awal perkembangan janin sangat penting dalam pengembangan sel-sel otak, bahkan ada yang berpendapat bahwa saat lahir jumlah sel otak tidak bertambah lagi.

Anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, bahkan dikatakan sebagai lompatan perkembangan. Anak usia dini memiliki rentang usia yang sangat berharga dibanding usia-usia selanjutnya karena perkembangan kecerdasannya sangat luar biasa. Usia tersebut merupakan fase kehidupan yang unik, dan berada pada masa proses perubahan berupa pertumbuhan, perkembangan, pematangan dan penyempurnaan, baik pada aspek jasmani maupun rohaninya yang berlangsung seumur hidup, bertahap, dan berkesinambungan. Anak usia dini merupakan anak yang berada pada usia 0-6 tahun. Mulai anak lahir hingga mencapai usia 6 tahun akan dikategorikan sebagai anak usia dini. Usia dini merupakan usia yang sangat penting bagi perkembangan anak, sehingga disebut usia emas (Golden Age), karena masa usia ini merupakan masa fundamental bagi perkembangan dan pertumbuhan anak, dan merupakan masa yang sangat menentukan, seperti apa anak kelak jika dewasa, baik dari segi fisik, mental maupun kecerdasan. Anak Usia Dini sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat, baik fisik maupun mental. Anak Usia Dini belajar dengan caranya sendiri.

Menurut Slamet Suyanto (2005) pertumbuhan dan perkembangan anak telah di mulai sejak prenatal yaitu dalam kandungan. Pembentukan sel syaraf otak, sebagai modal pembentukan kecerdasan, terjadi saat anak dalam masa kandungan. Setelah lahir tidak terjadi lagi pembentukan sel syaraf otak, namun hubungan antara sel syaraf otak (sinap) terus berkembang.

Begitu pentingnya usia dini, sampai ada teori yang menyatakan bahwa pada usia empat tahun 50% kecerdasan telah tercapai, dan 80 % pada usia delapan tahun. Selain pertumbuhan dan perkembangan fisik dan motorik, perkembanagn moral (termasuk kepribadian, watak, dan akhlak), sosial, emosional, intelektual dan bahasa juga berlangsung amat pesat, oleh karena itu usia dini disebut juga tahun emas (golden age).

Setiap anak bersifat unik, tidak ada dua anak kembar sekalipun yang sama. Setiap anak terlahir dengan potensi yang berbeda-beda, memiliki kelebihan, bakat dan minat sendiri.

Selanjutnya setelah lahir terjadi proses eliminasi dari sel-sel saraf dan pembentukan hubungan antarsel. Dalam hal ini terdapat dua hal yang sangat penting dan diperhatikan dalam pembentukan kecerdasan; yaitu makanan yang bergizi dan seimbang serta stimulasi yang positif dan kondusif. Banyak faktor yang akan sangat mempengaruhi anak dalam masa perkembangan dan pertumbuhan dalam hidupnya menuju kedewasaan, namun apa yang diajarkan pada anak usia dini akan tetap membekas dan bahkan memiliki pengaruh penting dalam menentukan setiap pilihan dan langkah hidup, bahkan tingkah polah mereka mampu membuat para orang tua terhibur karenanya.

  1. Karakteristik Anak Usia Dini

Anak usia dini memiliki karakteristik yang khas, baik secara fisik, psikis, sosial, moral, spiritual maupun emosional. Anak usia dini merupakan masa yang paling tepat untuk membentuk fondasi dan dasar kepribadian yang akan menentukan pengalaman selanjutnya. Oleh karena itu, memahami anak usia dini merupakan sesuatu yang sangat penting bagi orangtua, guru, pemerintah, dan masyarakat pada umumnya. Melalui pemahaman tersebut akan sangat membantu mengembangkan mereka secara optimal sehingga kelak menjadi generaso-generasi unggul yang siap memasuki era globalisasi yang penuh dengan berbagai macam tantangan dan permasalahan yang semakin rumit dan kompleks.

Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengamati karakteristik anak usia dini sebagai berikut:

  1. Sangat Ingin Tahu tentang Dunia Sekitarnya

 Rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal. Pada masa bayi rasa inign tahu ini ditunjukkan dengan meraih benda yang ada dalam jangkauannya kemudian memasukkannya ke mulutnya. Anak usia dini eksploratif dan berpetualang, maksudnya terdorong oleh rasa ingin tahu yang kuat, anak lazimnya menjelajah, mencoba dan mempelajari hal-hal baru.  Pada usia 3-4 tahun anak sering membongkar pasang segala sesuatu untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Aktif dan Energik, artinya anak lazimnya senang melakukan aktivitas. Di usia ini anak juga mulai gemar bertanya walaupun dalam bahasa yang masih sangat sederhana.

  1. Merupakan Pribadi yang Unik

Unik disini mempunyai arti sifat anak itu berbeda satu sama lainnya.

Dalam pola umum perkembangan anak usia dini,banyak kesamaan, namun setiap anak memiliki kekhasan tersendiri dalam hal bakat, minat, gaya belajar, dan sebagainya. Keunikan ini berasal dari faktor genetis dan juga lingkungan. Untuk itu pendidik perlu menerapkan pendekatan individual dalam menangani anak usia dini.

  1. Suka Berfantasi dan Berimajinasi

Anak usia dini senang dan kaya dengan fantasi, artinya anak senang berimajinatif.

Fantasi adalah kemampuan membentuk tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan yang sudah ada. Imajinasi adalah kemampuan anak untuk menciptakan obyek atau kejadian tanpa didukung data yang nyata (Siti Aisyah,2008). Anak usia dini sangat suka membayangkan dan mengembangkan berbagai hal jauh melampaui kondisi nyata. Bahkan terkadang mereka dapat menciptakan adanya teman imajiner. Teman imajiner itu bisa berupa orang, benda, atau pun hewan.

  1. Masa Paling Potensial untuk Belajar

Masa ini sering juga disebut sebagai “golden age” atau usia emas. Karena pada rentang usia itu anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat di berbagai aspek. Pendidik perlu memberikan berbagai stimulasi yang tepat agar masa peka ini tidak terlewatkan begitu saja. Tetapi mengisinya dengan hal-hal yang dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Anak di masa ini bergairah untuk belajar.

  1. Menunjukkan Sikap Egosentris

Egosentris, artinya anak lebih cenderung melihat dan memahami sesuatu dari sudut pandang dan kepentingannya sendiri. Pada usia dini anak memandang segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Anak cenderung mengabaikan sudut pandang orang lain. Hal itu terlihat dari perilaku anak yang masih suka berebut mainan, menangis atau merengek sampai keinginannya terpenuhi.

  1. Memiliki Rentang Daya Konsentrasi yang Pendek

Anak usia dini memiliki rentang perhatian yang sangat pendek. Pehatian anak akan mudah teralih pada hal lain terutama yang menarik perhatiannya. Sebagai pendidik dalam menyampaikan pembelajaran hendaknya memperhatikan hal ini.

  1. Sebagai Bagian dari Makhluk Sosial

Anak usia dini mulai suka bergaul dan bermain dengan teman sebayanya. Ia mulai belajar berbagi, mau menunggu giliran, dan mengalah terhadap temannya. Melalui interaksi sosial ini anak membentuk konsep dirinya. Ia mulai belajar bagaimana caranya agar ia bisa diterima lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini anak mulai belajar untuk berperilaku sesuai tuntutan dari lingkungan sosialnya karena ia mulai merasa membutuhkan orang lain dalam kehidupannya.

Karakteristik anak usia dini, selain yg telah dipaparkan di tas, ada juga yang mengelompokkan karakteristik dalam golonan usia, yaitu: (0 – 1) tahun, (2 – 3) tahun, dan (4 – 6) tahun; dengan karakteristik masing-masing sebagai berikut (Isjoni, 2011)

1)  Karakteristik Anak Usia 0 – 1 tahun

Usia 0–1 tahun disebut masa bayi, namun perkembangan fisiknya mengalami kecepatan yang sangat luar biasa. Berikut ini berbagai jenis karakteristik anak usia bayi:

  1. Mempelajari keterampilan motorik mulai dari berguling, merangkak, duduk, berdiri, dan berjalan.
  2. Mempelajari keterampilan menggunakan pancaindera seperti melihat, mengamati, meraba, mendengar, mencium, dan mengecap dengan memasukkan setiap benda ke mulutnya.
  3. Mempelajari komunikasi sosial. Bayi yang baru lahir telah siap melaksanakan kontak sosial dengan lingkungannya. Komunikasi responsif dari orang dewasa akan mendorong dan memperluas respons verbal dan nonverbal bayi.
  4. Berbagai kemampuan dan keterampilan dasar tersebut merupakan model penting bagi anak untuk menjalin proses perkembangan selanjutnya.

2) Karakteristik Anak Usia 2 – 3 tahun

Pada usia anak 2–3 tahun terdapat beberapa kesamaan karakteristik dengan masa sebelumnya, yang secara fisik masih mengalami pertumbuhan yang pesat. Beberapak karakteristik khusus anak usia 2-3 tahun adalah sebagai berikut.

  1. Sangat aktif mengeksplorasi benda-benda yang ada di sekitarnya. Ia memiliki kekuatan observasi yang tajam dan keinginan belajar yang luar biasa. Eksplorasi yang dilakukan oleh anak terhadap benda apa saja yang ditemui merupakan proses belajar yang sangat efektif. Motivasi belajar anak pada usia tersebut menempati grafik tertinggi dibanding sepanjang usianya bila tidak ada hambatan dari lingkungan.
  2. Mulai mengembangkan kemampuan berbahasa. Diawali dengan berceloteh, kemudian satu dua kata dan kalimat yang belum jelas maknanya. Akan terus belajar dan berkomunikasi, memahami pembicaraan orang lain dan belajar mengungkapkan isi hati dan pikiran
  3. Mulai belajar mengembangkan emosi. Perkembangan emosi anak didasarkan pada bagaimana lingkungan memperlakukan dia. Sebab emosi bukan ditentukan oleh bawaan, namun lebih banyak pada lingkungan.

3)  Karakteristik Anak Usia 4 – 6 tahun

 Karakteristik usia  anak 4 – 6 tahun adalah sebagai berikut.

  1. Berkaitan dengan perkembangan fisik, anak sangat aktif melakukan berbagai kegiatan. Hal tesebut sangat bermanfaat untuk pengembangan otot-otot kecil maupun besar, seperti memanjat, melompat, dan berlari.
  2. b) Perkembangan bahasa juga semakin baik. Anak sudah mampu memahami pembicaraan orang lain dan mampu mengungkapkan pikirannya dalam batas-batas tertentu, seperti meniru, mengulang pambicaraan.
  3. Perkembangan kognitif (daya pikir) sangat pesat, ditunjukkan dengan rasa ingin tahu anak yang luar biasa terhadap lingkungan sekitar. Hal itu terlihat dari seringnya anak menanyakan segala sesuatu yang dilihat.
  4. Bentuk permainan anak masih bersifat individu, bukan permainan sosial, walaupun aktivitas bermain dilakukan anak secara bersamaan.
  1. Beberapa Manfaat Memahami Karakteristik Anak Usia Dini

Memahami karakteristik anak usia dini dapat:

  1. dijadikan sebagai dasar pertimbangan untuk memberikan pendidikan dan layanan yang efektif.
  2. merancang program-program yang tepat untuk mengantarkan anak sukses dalam setiap langkah kehidupannya.
  3. memberikan pengalaman awal yang positif terhadap setiap anak sesuai dengan potensi dan karakteristiknya masing-masing.
  4. memberikan stimulasi fisik dan mental secara optimal, karena pada usia dini terjadi perkembangan fisik dan mental dengan kecepatan yang luar biasa dibanding dengan sepanjang usianya.
  5. mengetahui berbagai hal yang dibutuhkan oleh anak dan bermanfaat bagi perkembangan hidupnya.
  6. mengetahui tugas-tugas perkembangan anak sehingga dapat memberikan stimulasi, agar dapat melaksanakan tugas perkembangannya dengan baik.
  7. membimbing proses belajar pada saat yang tepat sesuai kebutuhannya.
  8. bermanfaat untuk menaruh harapan dan tuntutan terhadap anak secara realistis
  9. mengembangkan potensi anak secara optimal sesuai dengan kemampuannya.
  1. Permainan

Permainan adalah suatu kegiatan yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran  Anak Usia Dini. Karakter anak yang senang bermain menjadikan seorang guru dalam mengelola pembelajarannya harus memperhatikan beberapa hal yaitu tentang konsep, tujuan dan syarat permainan untuk anak, penggolongan kegiatan bermain anak, bahan dan alat permainan yang sesuai dengan perkembangan anak, serta implementasi penggunaan permainan dan alat bermain dalam kegiatan pembelajaran.

Pada saat bermain, anak memiliki kesempatan untuk mengekspresikan segala sesuatu yang ia rasakan dan pikirkan, dengan bermain, anak sebenarnya sedang mempraktekkan keterampilan yang di milikinya secara langsung karena dengan mempraktekkan anak akan menghasilkan pengalaman unik yang dapat membangun pengetahuannya. Anak mendapatkan kepuasan dalam bermain karena secara tidak langsung anak mengembangkan dirinya sendiri. Bermain memberikan suatu kesenangan bagi anak dan dapat membantu perkembangan dan pertumbuhan anak baik dari segi perkembanagn otot kasar dan halus anak, meningkatkan penalaran anak, dan memahami kebenaran lingkungannya, membentuk daya imajinasi anak dan mengembangkan kreativitas.

Area bermain anak dapat secara langsung mengobservasi lingkungan sekitarnya sehingga anak dapat berinteraksi langsung dengan lingkungannya, dengan bermain anak dapat menemukan lingkungan orang lain, dan menemukan dirinya sendiri, sehingga anak dapat bersosialisasi dengan lingkungan tersebut, anak dapat menghargai orang lain, tenggang rasa terhadap orang lain, tolong menolong sesama teman dan yang lebih utama anak dapat menemukan pengalaman baru dalam kegiatan tersebut. Bermain dapat memotivasi anak untuk mengetahui segala sesuatu secara lebih mendalam dengan bereksperimen sederhana.

Anak yang kreatif dapat terlihat dari tindakan yang dilakukannya, yaitu selalu aktif dalam segala kegiatan, tidak pernah diam, dan selalu ingin bergerak karena rasa ingin tahunya terhadap sesuatu yang baru di lihatnya, selalu bertanya tentang hal yang baru saja di lihatnya, memiliki kekhasan tersendiri dalam hal bakat, minat, gaya belajar, dan sebagainya, suka dengan hal-hal yang menantang keingintahuannya, lebih mengutamakan diri sendiri, dan memiliki konsentrasi yang sangat pendek atau cepat merasa bosan.

Kenyataan di lapangan, sering dijumpai bahwa kreativitas anak terhambat oleh keterbatasan lingkungan bermain anak, kurangnya kebebasan bagi anak untuk bermain dengan bebas, dan kurangnya sarana bermain bagi anak, terlebih lagi ada sebagian orang tua yang melarang anaknya untuk bermain dengan teman sebayanya di luar.

Di zaman yang semakin modern ini, banyak anak-anak yang tertekan untuk mengikuti kegiatan sekolah, karena pembelajaran anak usia dini di sekolah banyak yang terstruktur dan formal, sehingga celah bagi anak untuk bermain sambil belajar semakin sempit. Padahal kegiatan bermain bebas sering merupakan kunci untuk mengembangkan bakat, kreatif, yang dimiliki setiap anak, dan mengembangkan kreativitas anak.

Fungsi bermain bagi anak usia dini dapat dijadikan sebagai modal yang jika dilaksanakan dengan tepat, baik dilengkapi dengan alat maupun tanpa alat akan sangat membantu mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak baik perkembangan sosial, emosional, kognitif, dan afektif pada umumnya, dan mengembangkan daya kreativitas anak.

Sebaiknya para pendidik dan orang tua, agar berupaya mencarikan solusi permainan yang dapat meningkatkan kreatifitas anak, seperti kegiatan eksperimen sederhana, dimana kegiatan eksperimen ini tidak akan jauh dari unsur bermain bagi anak, karena anak secara langsung berinteraksi sendiri dengan objeknya dan sesuai dengan kemauan anak. Kegiatan-kegiatan tersebut tidak luput dari bimbingan dan arahan seorang guru TK.

  1. Cara Meningkatkan Kreatifitas Anak melalui Berbagai Permainan
  2. Meningkatkan Kreatifitas Anak melalui Permainan Balok Kayu

Balok kayu adalah mainan edukatif anak yang terbuat dari potongan-potongan kayu, terdiri dari berbagai jenis bentuk geometri. Permainan balok kayu merupakan permainan yang membentuk dan menggabungkan objek, permainan ini sering disebut permainan konstruktif, dimana anak secara aktif membangun sesuatu dengan menggunakan bahan atau material yang sudah tersedia dengan pengetahuan yang dimilikinya. Anak menyusun serta merangkai balok-balok kayu menjadi sebuah bangunan menara, gedung, rumah, jalan, dan sebagainya.

Beberapa keunggulan dari permainan balok di antaranya:

1)         Manfaat Fisik

Mainan balok memperkuat genggaman jari dan tangan anak, meningkatkan koordinasi mata dan tangan. Mainan balok juga mendidik anak mempelajari perbedaan bentuk geometri.

2)         Manfaat Sosial

Mainan balok mendorong anak untuk berteman dan bekerja sama. Mainan balok bermanfaat bagi anak, karena dengan bermain balok mendorong berinteraksi dan berimajinasi. Imajinasi anak dapat segera diwujudkan dengan berrmain balok. Kreatifitas yang dikombinasikan dengan kegiatan sangat penting dalam kehidupan sosial anak.

3)         Manfaat Intelektual

Anak dapat mengembangkan kemampuan kata-kata saat mereka mencoba menggambarkan ukuran, bentuk dan posisi. Anak mengembangkan kemampuan matematik melalui pengelompokan, penambahan, pengurangan. Dua buah segitiga sama sisi jika digabung akan menjadi persegi empat. Pada saat bermain balok, anak akan mengetahui bahwa balok jika tidak seimbang akan jatuh, anak belajar tentang keseimbangan dan gravitasi. Belajar geometri dari mainan balok akan meningkatkan stimulasi intelektual. Penelitian yang dilakukan di Universitas Washington juga menunjukkan hasil, bahwa anak yang bermain menggunakan balok-balok, kemampuan bahasanya lebih tinggi dari teman-temannya.

4)         Manfaat Kreatif

Mainan balok merupakan pemicu stimulus kreatifitas, karena anak akan membuat desain mereka sendiri dengan balok.

Semua anak akan melalui tahapan dalam bermain menggunakan balok di antaranya:

  1. a) Anak akan membawa balok-balok berkeliling, dengan demikian mereka belajar tentang balok misalnya berapa berat balok tersebut, bagaimana rasanya dan berapa banyak bisa diangkat sekali jalan.
  1. b) Anak memajang balok atau menidurkannya di lantai, karena anak masih belajar karakter balok. Bagaimana meletakkan yang satu di atas lainnya untuk membuat menara.
  1. c) Cara baru menyambung balok: memagar, jembatan, pola-pola dekoratif dan kejelian membanding. Awalnya anak akan senang memagar dengan teknik baru, membuat pagar merupakan suatu pengalaman yang menyenangkan, kemudian pagar dapat digunakan untuk permainan dramatik. Memagar mengarahkan anak-anak untuk mengenal bentuk-bentuk geometrik dan lapangan. Membuat jembatan dengan dua balok ditancapkan dalam posisi antara satu dan lainnya diberi jarak lalu jarak ini dihubungkan dengan satu balok lagi di bagian atasnya.
  1. d) memberi nama bangunan, menggunakan dan mengembangkan bangunan, begitu mereka memiliki pengalaman, untuk umur 4 sampai 6 tahun, anak-anak mulai memberi nama bangunan yang mereka buat.
  1. Meningkatkan Kreatifitas Anak melalui Permainan Ayunan

Ayunan merupakan salah satu permainan favorit anak-anak. Mudah ditemui di hampir setiap taman kota dan tempat bermain anak, kita sering melihat anak-anak berbeda usia sedang asyik dan bersenang-senang bermain ayunan. Bisa berayun-ayun dan menggoyangkan kaki di udara memang memberikan kegembiraaan tersendiri. Permainan ayunan dapat dibuat dari berbagai bahan. Ayunan sederhana bisa dibuat dari ban mobil bekas dan tali tambang serta digantung ke cabang pohon yang kuat. Di taman bermain yang modern, fasilitas ayunan yang disediakan terbuat dari materi yang kuat dan mahal. Dibuat dari bahan apa pun, daya tarik dan manfaat dari ayunan bagi anak-anak akan tetap sama. Ayunan tidak hanya permainan yang menyenangkan, namun juga memberikan beberapa manfaat bagi anak-anak. Manfaat Bermain Ayunan di antaranya bermanfaat untuk:

1)         fisik

Ayunan di taman bermain dapat menjadi cara yang menyenangkan untuk memerangi dan mencegah obesitas pada masa kanak-kanak. Ayunan mendorong anak untuk melakukan kegiatan di luar ruangan (outdoor) yang bisa melibatkan semua otot dan membakar kalori. Gerakan menarik kembali dan mendorong maju dengan menggunakan kaki bisa membuat paha belakang dan paha depan bergerak juga. Pinggul dan lutut anak-anak juga akan berkembang lebih baik dan kuat.

2)         sosial

Bermain di luar ruangan atau bermain di lingkungan alam sangat penting untuk mengembangkan keterampilan sosial anak. Bermain ayunan bisa menghilangkan stres, membantu mengurangi kelebihan berat badan, mengajarkan anak untuk berinteraksi dengan anak-anak lain serta memberikan kesempatan kepada orang tua untuk mengajarkan anak supaya menghargai dan mencintai alam.

3)         emosional

Ayunan merupakan permainan yang ‘bebas’ dan tidak terstruktur. Hal ini memberikan kesempatan kepada setiap anak yang bermain untuk menikmati dan menjadi dirinya sendiri. Berayun-ayun memberi mereka waktu dan kesempatan untuk berimajinasi dan berkreasi. Seorang anak bisa berimajinasi menjadi siapa pun atau apa pun yang mereka inginkan ketika mereka ‘terbang’ naik dan turun. Bermain ayunan sendiri atau dengan anak-anak lain yang sebaya, anak-anak dapat memproses apa yang telah mereka pelajari selama bermain.

Manfaat bermain ayunan sangat penting untuk menguatkan otot-otot anak, namun hendaknya Anda harus memastikan keselamatan anak dengan mengecek terlebih dulu kekuatan dan keamanan dari peralatan ayunan tersebut. Usahakan selama anak-anak bermain tetap didampingi dan awasi.

Saat ini produk ayunan sudah dibuat untuk berbagai usia anak, bahkan untuk bayi sudah ada ayunan khusus bayi. Ketika bayi sudah bisa duduk dan kontrol kepalanya sudah terlihat stabil, orang tua bisa mulai mencoba mengajak sang bayi untuk berayun pertama kalinya di ayunan bayi. Kebanyakan bayi mulai suka main ayunan sejak umur 8-9 bulan, namun jangan dipaksa apabila bayi Anda masih takut dan menangis.

Orang tua bisa memperkenalkan sensasi berayun pertama kali kepada anak dengan cara memangku mereka ketika Anda memakai ayunan. Berayunlah dengan pelan-pelan, jaga keselamatan anak di pangkuan. Jika bayi atau anak Anda sudah menunjukkan keberanian dan kegembiraan bermain ayunan, berikan kesempatan main ayunan khusus bayi atau anak-anak. Untuk menghindari kemungkinan risiko kecelakaan, dorong ayunan dengan pelan dan lembut.

  1. Meningkatkan Kreatifitas Anak melalui Permainan Perosotan

Perosotan merupakan salah satu mainan yang paling sederhana dan paling mudah dilakukan oleh anak, bahkan tanpa memperhatikan tingkat keselamatan bagi dirinya sendiri, sehingga akan membuat orang tua khawatir akan keselamatan anaknya. Tempat-tempat yang berbahaya untuk bermain perosotan di antaranya, lantai kamar mandi, tangga. Saai ini sudah ada perosotan atau peluncur yang terbuat dari fiber yang sangat kokoh dan aman untuk dijadikan arena bermain anak yang sudah dilengkapi dengan tangga untuk naiknya ke atas saat akan meluncur, dan ukuran serta designya menyesuaikan usia anak. Fariasi perosotan yang ada, mulai dari yang berukuran kecil, hingga yang ukuran besar, baik yang dipasang di dalam ruangan maupun yang dipasang di luar ruangan, di taman atau halaman rumah. Bermain perosotan memiliki banyak manfaat bagi anak, di antaranya untuk:

1)         Pertumbuhan Fisik Anak

Bermain perosotan dapat melatih perkembangan otot kaki anak, karena apa, karena bermain perosotan ini anak akan lebih banyak berjalan menaiki tangga sebelum si kecil ini meluncur ke bawah. Dengan demikian perosotan juga memiliki manfaat untuk pertumbuhan fisik anak. Untuk pertumbuhan yang lain silahkan sahabat amati sendiri. Pasti ada yang lain.

2)         Pertumbuhan Sosial Anak

Pada saat anak bermain perosotan perhatikan bagaimana cara anak bermain perosotan, anak akan banyak bertanya diawal, tak jarang anak bercerita tentang apa yang dialami ketika bermain perosotan, juga ketika anak bermain perosotan bersama temannya, perhatikan bagaimana anak dapat bergantian bermain dengan teman-temannya. Hal inilah yang akan melatih pertumbuhan jiwa sosial anak dimasa yang akan datang, pandai-pandai kita mengarahkannya.

3)         Emosional  Anak

Pada saat bermain perosotan emosional anak akan berkembang dengan sendirinya. Perhatikan tingkah laku anak ketika bermain perosotan. Apakah dia menangis, marah, atau tertawa ? Saat itulah yang perlu kita perhatikan. Apabila anak menangis ketika jatuh tinggal bagaimana kita mengarahkan anak, bagaimana bersikap ketika jatuh. Itulah peranan bermain perosotan bagi perkembangan emosional anak, maka dengan demikian, ternyata bermain perosotan juga memiliki manfaat yang sangat baik bagi pertumbuhan anak. Gunakan perosotan yang aman yang dapat kita pantau dan juga menggunakan alat mainan yang kokoh dan aman. Demikianlah beberapa contoh mainan yang dapat meningkatkan kreativitas anak usia dini.

PENUTUP

Bermain dengan alat-alat permainan dalam meningkatkan kreativitas anak usia dini diperlukan pemilihan alat-alat permainan yang selektif oleh pendidik, sehingga melalui permainan dengan alat-alat permainan yang dapat meningkatkan kreativitas anak usia dini memberikan dampak positif terhadap kecerdasan  anak. Pada saat pelaksanaan kegiatan beramain, diperlukan bimbingan pendidik, sehingga proses pembelajaran pun saat kegiatan bermain dapat diterapkan, seperti bermain bergantian, menunggu giliran bermain dan sebagainya.

Alat permainan yang digunakan untuk anak usia dini sebaiknya alat permainan yang dapat merangsang kreativitas anak dan menyenangkan, sehingga  diperoleh manfaat yang dapat meningkatkan kreativitas anak, dan membantu tumbuhkembang anak. Faktor terbesar dalam pelaksanaan permainan adalah adanya kemauan dari pendidik untuk menyediakan berbagai jenis permainan yang dapat menggali dan mengembangkan kreatifitas anak usia dini.

Demikianlah makalah ini dibuat, semoga bermanfaat bagi para pendidik khususnya, maupun bagi orang tua.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Ruslan. (2007). Pendidikan usia Dini yang Baik, Landasan Keberhasilan Pendidikan Masa Depan. Darul Ma’arif: Bandung.

Andrianto.(2009).Membentuk Anak Cerdas dan Tangguh.Yogyakarta: Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Anwar, A. (2007). Pendidikan Anak Usia Dini.  Bandung: Alfabeta.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.(2007). Undang-undang No.20 Tahun 2009 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Depdiknas: Jakarta.

Depdiknas, (2005) Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Direktorat PADU PLSP.

Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Depdiknas. 2007. Kerangka Dasar Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Negeri Jakarta: Jakarta.

             Gramedia.

Hadis, F.A. (1996). Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta : Proyek Pendidikan Tenaga Guru Ditjen Dikti Depdikbud.

Masitoh, dkk. (2007) Strategi Pembelajaran TK. Jakarta: Universitas Terbuka :Menciptakan Kelas Yang Berpusat Pada Anak. CRI: Children’s Resources International, Inc.

Moeslichatoen. (2004) MetodePengajaran di tamanKanak-Kanak.  Jakarta: Rineka Cipta.

Montolalu. W (2008) Bermain Dalam Kelompok, Bermain Bola, Bermain dengan Angka. Jkt: Grasindo

Ralibi, M.I. (2008)  Fun Teaching.  Bekasi: Duha khazanah.

Rofi,Imam.(2011).Game Edukatif di Dalam dan Luar Sekolah.Yogyakarta:Diva Press.

Soemiarti (2003) Pendidikan Anak Pra Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Solehuddin (2000) Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah. Bandung: FIP-UPI Indonesia

Sudono, Anggani (2004) Sumber Belajar dan Alat permainan untuk Anak Usia Dini, Jakarta: Grasindo

Suhendi, A., dkk  (2001) Mainan dan Permainan. Nakita. Juni 2001. Jakarta: PT.

Suyanto, Slamet.(2005). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.Jakarta.

Zaman, Badrun.(2005).Media dan Sumber Belajar Taman Kanak-kanak. Jakarta. Universitas Terbuka.