children_cartoon

Satu dari 3 orang anak di Indonesia Mengalami Beban Ganda Gizi

Jakarta (9/10), #sahabatluarbiasa, Stunting merupakan kata yang baru kita dengar akhir-akhir ini. Beberapa Kementerian telah memulai kerja terkait Stunting sejak tahun 2017 lalu sesuai dengan amanat Instruksi Presiden nomor 1 tahun 2017. Sebenarnya apakah itu Stunting? Saat ini Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi yang berdampak serius terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Salah satu masalah gizi yang menjadi perhatian utama saat ini adalah tingginya angka anak balita pendek (Stunting). Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 37,2 % sementara Pemantauan Status Gizi Tahun 2016, mencapai 27,5 %. Batasan WHO menyebutkan angka normal seharusnya kurang dari 20%. Hal ini berarti pertumbuhan yang tidak maksimal dialami oleh sekitar 8,9 juta anak Indonesia, atau 1 dari 3 anak Indonesia mengalami stunting dan lebih dari 1/3 anak berusia di bawah 5 tahun di Indonesia tingginya berada di bawah rata-rata.

Stunting lebih dipahami sebagai kekurangan gizi kronis yang dialami anak-anak kita terutama dimasa 1000 hari pertama kehidupan anak. Kekurangan gizi ini terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal anak lahir, tetapi stunting baru akan nampak secara fisik setelah anak berusia 2 tahun. Standar ukuran tinggi badan anak sesuai usia anak (standar WHO) menjadi alat ukur apakah anak tergolong dalam kelompok Stunting atau tidak. Hal ini disampaikan oleh Bapak Drs. Sam Yhon, MM